-
Epicardial Adipose Tissue Thickness as A Predictor Of Coronary Le sion Se verity In St able Coronary Arte ry Disease Patients
Vol 4 No 1 (2017)Cardiovascular disease is the leading global cause of death, accounting for 17,3 million deaths per year, a number that is expected to grow to more than 23.6 million by 2030.1Of these deaths, an estimated 7,3 million were due to CAD.2Inflammation plays an integral role in the pathogenesis of atherosclerotic CAD.3-5 Therefore the interest in the EAT that is located between the myocardium and the pericardium surrounding both ventricles with variable extent and distribution patterns arouse.6-8 Because of its endocrine and paracrine activity, secreting pro-inflammatory and anti-inflammatory cytokines and chemokines, it has been suggested to influence coronary atherosclerosis development.9-13 TTE enables non-invasive assessment of EAT.14,15To date, the correlation of EAT with severity of CAD in Indonesia remains unknown. To address this issue, we examined the relationship between EAT thickness measured by TTE with coronary lesion severity in Indonesian patients with stable CAD. Methods Study Design The study was designed as an observational cross-sectional study. It was approved by Hasanuddin University ethic committee and written informed consent was obtained from all participants.
-
Pelacakan Pasien TB MDR Terkonfirmasi Yang Belum Memulai Pengobatan Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode April 2012 – Februari 2015
Vol 4 No 1 (2017)Sampai saat ini TB masih merupakan salah satu penyakit menular yang mematikan di dunia. Pada tahun 2013 diperkirakan sekitar 9 juta orang terjangkit penyakit ini dengan kematian pada 1,5 juta penderitanya. Dari jumlah tersebut, 360 ribu diantaranya mengidap HIV positif. Tuberkulosis secara perlahan menurun kasusnya dan diperkirakan sekitar 37 juta nyawa telah berhasil diselamatkan antara tahun 2000 s.d tahun 2013 seiring bertambah efektifnya proses diagnosis dan pengobatan. Kendati demikian, angka kematian yang tinggi tersebut sebenarnya kurang bisa diterima karena sejatinya hal tersebut dapat dicegah. Dibutuhkan upaya yang lebih keras untuk bisa mencapai target global pada tahun 2015 seperti tertuang dalam Millenium Development Goals (MDGs). Selain itu, upaya pemberantasan penyakit tuberkulosis saat ini diperberat dengan meningkatnya kejadian infeksi HIV serta munculnya kasus-kasus MDR TB
Pada tahun 1995, program nasional pengendalian TB mulai menerapkan strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.2 Dalam perkembangan beberapa tahun terkahir, penanggulangan TB di Indonesia saat ini sudah lebih baik, hal ini terlihat dari peringkat negara Indonesia dengan kasus TB terbanyak yang menurun menjadi peringkat 5.3 Walaupun demikian, Indonesia adalah negara high burden dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh rumah sakit memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan dan mungkin menimbulkan kekebalan obat.4
Multidrugs Resistant Tuberculosis merupakan masalah terbesar terhadap pencegahan dan pemberantasan TB dunia.6 Pada tahun 2003 WHO menyatakan insidens MDR TB meningkat secara bertahap rerata 2%. Prevalensi TB Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000 penduduk dan angka kematian 38/100.000 penduduk. Pada tuberkulosis kasus baru didapatkan TB-MDR 2% dan pada TB kasus yang sudah diobati didapatkan MDR TB 19 %.5 Untuk Indonesia, TB MDR berada di urutan ke 8 dari 27 negara dengan kasus TB MDR terbanyak.3 Hasil penelitian Sri Melati Munir, Arifin Nawas dan Dianiati K Soetoyo dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan Jakarta mendapatkan kesimpulan bahwa resisten Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang terbanyak adalah resisten sekunder 77,2% dan didominasi resisten terhadap rifampisin dan isoniazid 50,5% sedangkan resistensi primer sebesar 22,8%. Baik pada resistensi primer maupun sekunder didapatkan resisten terhadap rifampisin dan isoniazid 50,5 %, resisten terhadap rifampisin, isoniazid dan streptomisin 34,6%. Tulang punggung pengobatan TB adalah rifampisin dan isoniazid. Namun demikian, paling banyak terjadi resistensi.7
