• LEUCOCYTE, NEUTROPHILS COUNTS AND PROCALCITONIN LEVELS IN SALMONELLA AND GRAM-NEGATIVE BACTEREMIAS
    Vol 4 No 1 (2017)

    Procalcitonin (PCT) is a protein composed of 116 amino acid with a molecular mass of 13 kDa.1 The definite source of serum PCT is uncertain, but it has been speculated that PCT is produced by liver cells, monocytes
    cells, and macrophage cells in response to infection.2 Serum PCT levels increase rapidly during various bacterial infection, especially Gram-negative bacterial infections.3 The outer membrane component of Gram-negative bacteria (i.e. endotoxin or lipopolysaccharides) has been shown to be a strong inducer of PCT
    during bacterial infection. These bacteria cause the host to produce pro-inflammatory cytokines,
    which leads to increased PCT production.3,4 Elevated cytokines levels also cause the host to
    increase production of leucocyte and neutrophils cells. The lipopolysaccharides component plays
    a large role in the severity of Gram-negative infections. In clinical settings, PCT together with
    leucocyte and neutrophil counts are commonly used as markers of infection.5
    Salmonella species, a cause of typhoid fever, are also Gram-negative bacteria that contain endotoxin on their cell surface. Binding of salmonella endotoxin to CD14/Toll-like receptor (TLR)4 on macrophage cells activates
    nuclear factor kappa B (NFκB) to produce pro-inflammatory cytokine and increase inflammatory cytokines, resulting in elevated PCT levels.6,8 In clinical practice, leucocyte and neutrophil counts can be used as a marker of bacterial infection.9 In addition, several studies have reported that serum PCT levels are useful
    in distinguishing Gram-negative bacteremia from Gram-positive bacteremia.3,10 However,
    there have been no studies comparing laboratory markers of bacterial infection in Gram-negative
    and Salmonella bacteremias. Therefore, we conduct this study to investigate the differences
    in leucocyte and neutrophil cell counts and PCT levels among Salmonella and Gram-negative
    bacteremias.

     

  • Acute Postpapartum Pulmonary Edema in a 34-year-old Preeclampsia Woman
    Vol 4 No 1 (2017)

    Postpartum pulmonary edema is a rare clinical entity.1 Acute pulmonary edema, which signifies severe disease, is a leading cause of death in women with preeclampsia, and the fourth most common form of maternal morbidity. It is also frequently the reason for intensive care admission, and may occur during antenatal, intrapartum or postpartum periods.2 Pulmonary edema complicates around 0,05% of low-risk pregnancies but may develop in up to 2,9% of pregnancies complicated by preeclampsia3-4, with 70% of cases occurring after birth.2-3 A clinician needs to be aware of the physiologic changes in the maternal cardiovascular system that accompany pregnancy predispose to the development of pulmonary edema, such as increase in plasma blood volume, cardiac output, heart rate, and capillary permeability and a decrease in plasma colloid osmotic pressure. Resuscitation is the foremost priority, followed by formulation of a differential diagnosis to address the underlying condition.4 Here we report a postpartum patient who presented with acute pulmonary edema with severe respiratory compromise.

  • Efektivitas Kortikosteroid sebagai Terapi Adjuvan pada Pneumonia Komunitas Berat: Laporan Kasus Berbasis Bukti
    Vol 4 No 1 (2017)

    Pneumonia komunitas (PK) adalah penyakit infeksi yang umum namun bersifat serius. Pneumonia komunitas termasuk dalam 10 penyebab kematian tertinggi di dunia.1 Terapi antimikrobial telah diketahui merupakan titik berat tata laksana PK dimana tingkat fatalitas sebelum era terapi antimikrobial adalah 80% dan setelahnya turun menjadi 20%.2 Namun demikian, sekarang ini terapi antimikrobial saja terkadang tidak cukup adekuat untuk menurunkan mortalitas pada pneumonia berat.2 Pada patogenesis PK, sitokin inflamasiseperti IL-6, IL-8, dan IL-10 berlaku sebagai protein fase akut dimana jumlah berlebih dari IL-6 dan IL-10 telah diasosiasikan dengan tingginya mortalitas pada PK.3 Kortikosteroid atau glukokortikoid adalah obat anti-inflamasi yang paling efektif dan paling banyak digunakan.1 Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menginvestigasi manfaat penggunaan steroid sebagai terapi adjuvan pada pneumonia dengan hasil yang beragam. Sebagian studi menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis sedang melalui intravena dapat menumpulkan respon sistemik sitokin pro-inflamatorik pada sepsis berat dan inflamasi paru pada pneumonia berat dan cidera paru akut.1 Namun demikian, studi lain mengatakan bahwa tidak ada data yang mendukung manfaat penggunaan steroid sistemik dalam perawatan rutin pneumonia.4 Ditambah lagi, meskipun penggunaan kortikosteroid tampak menguntungkan, perlu diingat bahwa penggunaan steroid diketahui memiliki berbagai efek samping.5Sampai saat ini, keuntungan penggunaan steroid untuk pengobatan pneumonia berat dianggap masih kontroversial, sehingga dibutuhkan kajian berbasis bukti untuk membahas hal tersebut lebih lanjut.

  • Epicardial Adipose Tissue Thickness as A Predictor Of Coronary Le sion Se verity In St able Coronary Arte ry Disease Patients
    Vol 4 No 1 (2017)

    Cardiovascular disease is the leading global cause of death, accounting for 17,3 million deaths per year, a number that is expected to grow to more than 23.6 million by 2030.1Of these deaths, an estimated 7,3 million were due to CAD.2Inflammation plays an integral role in the pathogenesis of atherosclerotic CAD.3-5 Therefore the interest in the EAT that is located between the myocardium and the pericardium surrounding both ventricles with variable extent and distribution patterns arouse.6-8 Because of its endocrine and paracrine activity, secreting pro-inflammatory and anti-inflammatory cytokines and chemokines, it has been suggested to influence coronary atherosclerosis development.9-13 TTE enables non-invasive assessment of EAT.14,15To date, the correlation of EAT with severity of CAD in Indonesia remains unknown. To address this issue, we examined the relationship between EAT thickness measured by TTE with coronary lesion severity in Indonesian patients with stable CAD. Methods Study Design The study was designed as an observational cross-sectional study. It was approved by Hasanuddin University ethic committee and written informed consent was obtained from all participants.

  • Pelacakan Pasien TB MDR Terkonfirmasi Yang Belum Memulai Pengobatan Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode April 2012 – Februari 2015
    Vol 4 No 1 (2017)

    Sampai saat ini TB masih merupakan salah satu penyakit menular yang mematikan di dunia. Pada tahun 2013 diperkirakan sekitar 9 juta orang terjangkit penyakit ini dengan kematian pada 1,5 juta penderitanya. Dari jumlah tersebut, 360 ribu diantaranya mengidap HIV positif. Tuberkulosis secara perlahan menurun kasusnya dan diperkirakan sekitar 37 juta nyawa telah berhasil diselamatkan antara tahun 2000 s.d tahun 2013 seiring bertambah efektifnya proses diagnosis dan pengobatan. Kendati demikian, angka kematian yang tinggi tersebut sebenarnya kurang bisa diterima karena sejatinya hal tersebut dapat dicegah. Dibutuhkan upaya yang lebih keras untuk bisa mencapai target global pada tahun 2015 seperti tertuang dalam Millenium Development Goals (MDGs). Selain itu, upaya pemberantasan penyakit tuberkulosis saat ini diperberat dengan meningkatnya kejadian infeksi HIV serta munculnya kasus-kasus MDR TB
    Pada tahun 1995, program nasional pengendalian TB mulai menerapkan strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.2 Dalam perkembangan beberapa tahun terkahir, penanggulangan TB di Indonesia saat ini sudah lebih baik, hal ini terlihat dari peringkat negara Indonesia dengan kasus TB terbanyak yang menurun menjadi peringkat 5.3 Walaupun demikian, Indonesia adalah negara high burden dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh rumah sakit memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan dan mungkin menimbulkan kekebalan obat.4
    Multidrugs Resistant Tuberculosis merupakan masalah terbesar terhadap pencegahan dan pemberantasan TB dunia.6 Pada tahun 2003 WHO menyatakan insidens MDR TB meningkat secara bertahap rerata 2%. Prevalensi TB Indonesia tahun 2006 adalah 253/100.000 penduduk dan angka kematian 38/100.000 penduduk. Pada tuberkulosis kasus baru didapatkan TB-MDR 2% dan pada TB kasus yang sudah diobati didapatkan MDR TB 19 %.5 Untuk Indonesia, TB MDR berada di urutan ke 8 dari 27 negara dengan kasus TB MDR terbanyak.3 Hasil penelitian Sri Melati Munir, Arifin Nawas dan Dianiati K Soetoyo dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan Jakarta mendapatkan kesimpulan bahwa resisten Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang terbanyak adalah resisten sekunder 77,2% dan didominasi resisten terhadap rifampisin dan isoniazid 50,5% sedangkan resistensi primer sebesar 22,8%. Baik pada resistensi primer maupun sekunder didapatkan resisten terhadap rifampisin dan isoniazid 50,5 %, resisten terhadap rifampisin, isoniazid dan streptomisin 34,6%. Tulang punggung pengobatan TB adalah rifampisin dan isoniazid. Namun demikian, paling banyak terjadi resistensi.7

1 - 5 of 5 items