• Hospital-Acquired Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) In The Beginning Of Epidemic In Indonesia
    Vol 7 No 2 (2020)

    I Putu Eka Krisnha Wijaya, Ceva Wicaksono Pitoyo, Anindita Kartika Wiraputri,
    Michael Aaron Romulo Division of Respirology and Critical Care Internal Medicine, Department of Internal Medicine, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital - Faculty of Medicine University of Indonesia
    ABSTRACT
    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a novel acute respiratory disease that has been declared as a pandemic by World Health Organization (WHO) since March 11th 2020. General clinical manifestations of COVID-19 are fever, dry cough, and fatigue. Nonetheless, the majority of COVID-19 cases are asymptomatic. In Indonesia, COVID-19 was reported for the first time on March 2nd 2020. However, in the mid of March 2020 our hospital discovered 2 patients with COVID-19 sign and symptoms that were presented after being cared for several days, even though at that time our hospital hadn’t had any cases yet. Those patients were checked and all of them were positive for COVID-19. The objective of this case report is to raise the awareness of hospital-acquired COVID-19 infection possibility especially in the region with minimal cases so that healthcare staffs always be vigilant and don’t let their guard down towards COVID-19 dissemination threat which is still going on.
    Keywords: respiratory medicine, internal medicine
    ABSTRAK
    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan sebuah penyakit pernapasan akut baru yang dinyatakan sebagai sebuah pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. COVID-19 memiliki manifestasi klinis umum berupa demam, batuk kering, dan lemas, namun sebagian besar kasus COVID-19 bersifat asimptomatik. COVID-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Akan tetapi, pada pertengahan bulan Maret 2020 di rumah sakit kami terdapat 2 pasien dengan tanda dan gejala COVID-19 yang muncul setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, meskipun pada saat itu rumah sakit kami belum memiliki kasus. Kedua pasien akhirnya diperiksa dan keduanya didapatkan positif COVID-19. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial terutama pada daerah dengan jumlah kasus yang masih minimal agar tenaga medis tidak lengah dalam menghadapi ancaman penyebaran COVID-19 yang masih akan terus berlanjut.
    Kata kunci: respiratory medicine, ilmu penyakit dalam.

  • DRESS (Drug rash with eosinophilia and systemic symptoms) syndrome In Patient with Anti Tuberculosis Drugs
    Vol 7 No 2 (2020)

    Amila Hanifan1, Prayudi Santoso2, ArtoYuwono Soeroto2, Miranti Pangastuti3
    1Departement of Internal Medicine
    2Divison of Pulmonology and Critical Respiration, Department of Internal Medicine
    3Dvision of Dermato-Immunoallergology, Department of Dermatovenerology
    Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran, Dr. Hasan Sadikin Hospital

    ABSTRACT
    Introduction
    Drug reaction with eosinophilia and systemic symptoms (DRESS) syndrome is a type of life-threatening drug reaction. Clinical manifestations are morbilli form skin lesions, accompanied by fever, eosifnophilia and systemic involvement which can cause multi-organ failure. The incidence of DRESS syndrome is among 1: 1000 to 1: 10,000 patients, with 10% of mortality rate. Current literature shows that DRESS syndrome can be caused by anti-tuberculosis drugs, including ethambutol (53.5%), rifampicin (26.7%), pyrazinamide (20%), streptomycin (13.3%), and isoniazid (6.7%).
    Case Report
    A 42-year- old man has been known to suffer from pulmonary TB and undergo anti-tuberculosis drug therapy category I for 3 weeks. The patient has been known to have a history of allergy to ceftriaxone and ibuprofen drugs in previous treatments. The patient underwent a second treatment in the hospital with generalized erythema and scaly itchy skin. The physical examination showed that the patient had 39.1OC of body temperature with icteric sclera. The laboratory examination showed that the eosinophil was increased from 13% to 27%, accompanied by leukocyte 14,400 / UL, haemoglobin10 g / dL, and platelets 86,000 / UL. The examination on kidney and liver function resulted 57.0 mg / dl ureum and creatinine 2.39 mg / dl, and AST 458 IU / l, ALT 155 IU / l, total bilirubin 2,281 mg.dl, γ-glutamyltransferase 134 IU / l, ALP 357 IU / l, INR 1.79. At the beginning of the treatment, the scaly skin of the patient resembled the appearance of xerosis cutis. The development of the treatment showed that the patient fulfilled the DRESS syndrome diagnosis criteria based on RegiSCAR. The patient was treated in an intensive isolation room, and the anti-tuberculosis drugs discontinued.
    Conclusion
    DRESS syndrome is a drug reaction that can cause death. Diverse skin lesions and hypersensitivity reaction at slow onset make diagnosis difficult to establish. Therefore, diagnosing with RegiSCAR in the beginning and stopping the drug are important in the management of DRESS syndrome.
    Keywords: drug eruption, DRESS syndrome, anti-tuberculosis drugs, RegiSCAR, pulmonary TB

  • Bilateral Chylothoraks, Chyloperitoneum, Lympedema Lower Extremity In Follicular Lymphoma, Asthma Attack
    Vol 7 No 2 (2020)

    Fifi Yuniarti, Linda Andriani, Zen Ahmad
    Pulmonology Subdivision, Internal Medicine Departement, Medical Faculty SriwijayaUnversity/
    Mohammad Hoesin General Hospital, Palembang, Indonesia

    ABSTRACT
    Introduction
    Chylothoraksand chyloperitoneum are rare condition characterized by milky appearing fluid with elevated trigliseride. Lymphoma is found in 70%as etiology.
    Case Ilustration
    A women came to emergency room with chief complain shortness of breath since 4 days before admission. In physical examination found tachypnoe, tachycardia, decreased of vesicular in left side hemithorax, with wheezing in the hemithoraxdextra, dull in abdominal percussion and swelling in bilateral lower extremity. Chest radiology found a pleural effusion in bilateral thorax cavity. From CT abdominal and abdominal ultrasonography we found enlargement of paaraortalympnode, intraabdminalextraluminal mass.
    Discussion
    Chylothorax and chyloperitoneum diagnosed based onpleural trigliserid levels1100 mg/dL, 1290 mg/dL and 1030 in the peritoneal fluid.From sitology and immunohistochemistry showed a follicular lymphoma.We have done chest tube, pleurodesis with bleomycin, inhalation therapy and chemotherapy. Now she have finished the sixth series of chemetherapy and she have partial response.
    Conclusion
    We thought chylothorax in this patient caused by follicular lymphoma. Chemotherapy was given as underlying treatment.
    Keywords: chylothorax, chyloperitoneum, follicular lymphoma
    ABSTRACT
    Introduksi
    Chylothoraks dan chyloperitoneum merupakan kondisi yang jarang ditemukan yang ditandai dengan adanya cairan putih seperti susu dengan peningkatan kadar trigliserida. Lymphoma ditemkan sebagai etiologi sekitar 70%.
    IlustrasiKasus
    Seroang perempuan datang keruang emergensi RS Muhammad Hoesin Palembang dengan keluhan utama sesak sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari pemeriksaan fisikditemukan takipnoe, takikardia, penurunan vesikuler pada hemithoraks kiri disertai wheezing, redup pada saat perkusi abdomen dan edema pada bilateral ektremitas inferior. Dari foto thoraks didapatkan efusi pleura kiri. Dari pemeriksaan CT Scan dan USG abdomen didapatkan adanya pembesaran kelerjar getah bening paraaorta dan massa intraabdomen extraluminal.
    Diskusi
    Chylothorax dan chyloperitoneumdidiagnosis berdasarkankan dengan trigliserida pada cairan pleura kiri 1100 mg/dL, cairan pleura kanan 1290 mg/dL dan cairan ascites 1030 mg/dL. Dari pemeriksaan sitology serta imunohistokimia dengan kesan limfoma folikuler. Kami lakukan pemsangan chest tube, pleurodesis dengan bleomisin, terapi inhalasi dan kemoterapi. Pasien sudah menyelesaikan 6 seri kemoterapi dan memiliki respon remisi parsial untuk penyakitnya ini.
    Kesimpulan
    Kami berpikir penyebab chylothoraks pada pasien ini adalah follicular lymphoma. Kemoterapi diberikan sebagai terapi definitive.
    Kata kunci: chylothorax, chyloperitoneum, follicular lymphoma

  • Hipoalbuminemia Pada Pasien Sakit Kritis
    Vol 7 No 2 (2020)

    Ceva Wicaksono Pitoyo, Ardeno Kristianto
    Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis Departemen Ilmu Penyakit Dalam
    FKUI RSCM
    ABSTRAK
    Hipoalbuminemia pada keadaan sakit kritis merupakan penanda mortalitas yang penting. Patofisiologi terjadinya hipoalbuminemia pada pasien sakit kritis memiliki beberapa penyebab, meliputi penurunan produksi, adanya mediator peradangan, kebocoran vascular, serta malnutrisi. Pemberian albumin manusia intravena perlu dipertimbangkan diberikan untuk hypoalbuminemia pada sakit kritis
    Kata kunci: Hipoalbuminemia, sakit kritis
    ABSTRACT
    Hypoalbuminemia in critical illness is an important marker of mortality. The pathophysiology of hypoalbuminemia in critical illness including decrease of production, inflammation marker, vascular leakage, and malnutrition. Administration of intravenous human albumin is needed to be considered for treatment of hypoalbuminemia in critical illness.
    Keywords: hypoalbuminemia, critical illness

  • Mekanisme Hepatotoksisitas Dan Tatalaksana Tuberkulosis Pada Gangguan Hati
    Vol 7 No 2 (2020)

    Ivan Banjuradja*, Gurmeet Singh**

    Abstrak Abnormalitas fungsi hati merupakan efek samping tersering pemberian regimen obat anti tuberkulosis (OAT) standar dimana menyebabkan 11% penghentian pemberian OAT pada pasien tuberkulosis (TB). Hepatotoksisitas terutama berhubungan dengan pemberian isoniazid (INH), rifampisin (RIF) dan pirazinamid (PZA) pada golongan OAT lini pertama. Manifestasi hepatotoksisitas bervariasi antara hanya berupa abnormalitas fungsi hati sampai kejadian gagal hati akut. Adapun pedoman tatalaksana TB dengan cedera hati akibat OAT sebagian besar masih didasarkan pada opini ahli. Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai mekanisme kelainan hati akibat OAT, tatalaksana penghentian, mekanisme reintroduksi OAT pada pasien-pasien yang mengalami kelainan fungsi hati, dan tatalaksana pengobatan pada pasien TB dengan riwayat gangguan fungsi hati sebelumnya.
    Kata kunci: obat anti tuberkulosis, hepatotoksisitas
    Abstract The abnormalities of liver function are the most common antitubercular side effect, which resulted in 11% drug discontinuation. Hepatotoxicity was mainly associated with the isoniazid (INH), rifampicin (RIF), and pyrazinamide (PZA) administration. The manifestation of hepatotoxicity was greatly varies, from asymptomatic abnormal liver function test to disastrous acute liver failure. Most of the recommendation for the management of liver injury related to antitubercular are based on expert opinion. This literature review will discuss the mechanism of antitubercular inducing liver injury, diagnostic work up, reintroduction of antitubercular, and management of tuberculosis in patients with previous liver dysfunction history.
    Keywords: antitubercular, hepatotoxicity

  • Acute Exacerbation Of Asthma And COPD: What To Do As The Frontliners
    Vol 7 No 2 (2020)

    Hendarsyah Suryadinata
    Respirology and Critical Respiratory Division, Internal Medicine Department
    Medical Faculty of Padjadjaran University/ Dr Hasan Sadikin General Hospital

    Abstract : Exacerbations characterized by an increase in patients' symptoms above baseline, represent an important feature of the clinical manifestation and natural history of asthma and chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Acute asthma and COPD exacerbations are the most common respiratory diseases requiring emergent medical evaluation and treatment. Asthma and COPD exacerbations impose an enormous economic burden on health care budget. In daily clinical practice, a distinction between bronchial asthma and exacerbated COPD is difficult because symptoms are similar. Exacerbations represent a change in symptoms and lung function from the patient usual status. The decrease in expiratory airflow can be quantified by lung function measurements such as peak expiratory flow (PEF) or forced expiratory volume in 1 second (FEV1), compared with the patient’s previous lung function or predicted values. Medications most commonly used for exacerbations are oxygen supplementation, bronchodilators inhalation, corticosteroids, and antibiotics. For severe asthma attacks the administration of magnesium is a possible additional option. Invasive ventilation remains a last resort to ensure respiratory function and indications for this are given in patients with clinical signs of impending exhaustion of breathing. Keyword : exacerbation, asthma, COPD, lung function, medications
    Abstrak :
    Eksaserbasi yang ditandai oleh adanya perburukan gejala pasien, merupakan salah satu bagian penting dari manifestasi klinis dan perjalanan penyakit pasien dengan asma dan penyakit paru obstuktif kronis (PPOK). Eksaserbasi asma akut dan PPOK merupakan penyakit respirasi yang paling umum ditemukan yang membutuhkan evaluasi dan pengobatan medis segera. Eksaserbasi asma dan PPOK memiliki dampak ekonomi yang besar pada pembiayaan kesehatan. Dalam praktik klinis sehari-hari, perbedaan antara eksaserbasi asma dan PPOK kadang disulitkan oleh gejalanya yang serupa. Eksaserbasi menunjukkan adanya perubahan pada gejala dan fungsi paru dari status pasien biasanya, Penurunan pada aliran eksiprasi dapat dinilai oleh pengukuran fungsi paru seperti alur puncak ekspirasi (APE) atau volume paksa eksiprasi 1 detik (VEP1), dibandingkan dengan nilai fungsi paru sebelumnya atau nilai prediksi. Medikasi yang biasanya digunakan untuk eksaserbasi adalah suplementasi oksigen, inhalasi bronkodilator, kortikosteroid dan antibiotik. Pada pasien serangan asma berat, pemberian magnesium dapat menjadi opsi tambahan. Ventilasi invasif merupakan pilihan terakhir bantuan fungsi respirasi pada pasien dengan tanda ancaman gagal nafas. Kata kunci : eksaserbasi, asma, PPOK, fungsi paru, medikasi

  • Sistem Penapisan Pasien Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) RSUD Kramat Jati
    Vol 7 No 2 (2020)

    Nur Chandra Bunawan1, Robert Sinto2,3, Annisa Dian Harlivasari1, Hardijatmo Muljo Nugroho1, Natalia Wistriany1, Setioningsih Diponegoro1, Debby Permatasari4, Friana Asmely4, Gurmeet Singh2,3, Evy Yunihastuti3
    1 Tim Penanganan Kasus pasien dengan Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging Disease (PINERE), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kramat Jati, Jakarta
    2 Tim Penanganan Kasus pasien dengan Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging Disease (PINERE), RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
    3 Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
    4 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kramat Jati, Jakarta
    Alamat korespondensi: Nur Chandra Bunawan RSUD Kramat Jati Jl. Raya Inpres No. 48 RT 9/RW 9 Kampung Tengah, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur 13540 email: nur.chandra86@gmail.com
    ABSTRAK
    Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) memiliki spektrum manifestasi klinis yang sangat luas meliputi hampir semua bagian disiplin ilmu kedokteran. Keterbatasan dan ketersediaan uji diagnosis yang ada saat ini menyebabkan hambatan deteksi awal pasien dengan kecurigaan COVID-19. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengenalkan sistem penapisan COVID-19 yang digunakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kramat Jati, Jakarta Timur
    Kata kunci: COVID-19, Rumah Sakit Umum Daerah, Kramat Jati, Penapisan
    ABSTRACT
    Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) has a broad spectrum of clinical manifestations encompassing almost all of medical disciplines. Limitation and availability of current diagnostic tests hinder early detection of suspected COVID-19 patients. This article aims to introduce the COVID-19 screening system used in Kramat Jati Regional Public Hospital, East Jakarta
    Keywords: COVID-19, Regional Public Hospital, Kramat Jati, Screening

  • ALOX5 Gene Polymorphism And Effects Of Omega-3 Fish Oil On Lung Function In Asthma
    Vol 7 No 2 (2020)

    Amelia Lorensia1, Mariana Wahyudi2, Nadia Aisah Mayzika 3
    1 Department of Clinical-Community Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Surabaya (UBAYA)
    2 Department of Purification and Molecular Biology, Faculty of Biotechnology, Universitas Surabaya (UBAYA)
    3 Postgraduate Student of Master of Pharmacy Science, Faculty of Pharmacy, Universitas Surabaya (UBAYA)

    Abstract
    Background: Omega-3 as a local source plays a role in the arachidonic pathway in asthma therapy, related to an improvement of lung function. The anti-inflammatory effects of omega-3 are known to be related to genetic factors, one of which is on ALOX5 gene polymorphism
    Objective: This study aims to determine the profile of ALOX5 polymorphism and the effects of omega-3 fish oil on lung function in asthma in Surabaya
    Methods: The method was pre-experimental design, using a purposive sampling technique for data collection from June 2017 to January 2018 in Surabaya. The intervention provided was fish oil which contains 1000 mg of omega-3 for 1 month. The different test using paired t-test to compare before and after getting the intervention. The research subjects were 27 adult outpatient asthmatics and 23 non-asthma patients (as the comparison on genetic testing.
    Results: The results of improvement in lung function showed a significant difference (p=0.00) in PEF0 values (average: 217,96L/sec) and PEF4 (average: 325,00L/sec). Of the 27 study subjects, only 23 people could have genetic testing by a buccal swab. Asthma patients had more mutant II genotypes (39,13%) than wild types (30,43%). In this study, the relationship between ALOX5 gene polymorphism and lung function improvement cannot be tested because the number of samples is relatively limited. There was one subject who had constant PEF value (mutant II) and decreased PEF value (mutant III)
    Conclusion: Fish oil is effective in improving lung function, especially in asthma patients with wild genotype type.
    Keywords: ALOX5, asthma, PEF, fish oil, omega-3
    Abstrak
    Pendahuluan: Omega-3 sebagai sumber lokal berperan dalam jalur arakidonik dalam terapi asma, terkait dengan peningkatan fungsi paru. Efek antiinflamasi omega-3 diketahui berkaitan dengan faktor genetik, salah satunya pada polimorfisme gen ALOX5
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil polimorfisme ALOX5 dan efek minyak ikan omega-3 terhadap fungsi paru-paru penderita asma di Surabaya.
    Metode: Metode yang digunakan adalah studi pre-eksperimental dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling untuk pengumpulan data dari bulan Juni 2017 sampai Januari 2018 di Surabaya. Intervensi yang diberikan adalah minyak ikan yang mengandung 1000 mg omega-3 selama 1 bulan. Uji beda menggunakan paired t-test untuk membandingkan sebelum dan sesudah mendapat intervensi. Subjek penelitian adalah 27 pasien penderita asma dewasa rawat jalan dan 23 pasien non asma (sebagai pembanding pada pengujian genetik). Hasil peningkatan fungsi paru menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,00) pada nilai PEF0 (rata-rata: 217,96L / detik) dan PEF4 (rata-rata: 325,00L / detik). Dari 27 subjek penelitian, hanya 23 orang yang dapat menjalani pengujian genetik dengan swab bukal. Pasien asma memiliki lebih banyak genotipe mutan II (39,13%) dibandingkan tipe liar (30,43%). Dalam penelitian ini, hubungan antara polimorfisme gen ALOX5 dengan peningkatan fungsi paru tidak dapat diuji karena jumlah sampel yang relatif terbatas. Ada satu subjek yang memiliki nilai PEF konstan (mutan II) dan mengalami penurunan nilai PEF (mutan III).
    Kesimpulan: Minyak ikan efektif meningkatkan fungsi paru-paru, terutama pada penderita asma tipe wild genotype.
    Kata kunci: ALOX5, asma, PEF, minyak ikan, omega-3

  • Frekuensi Mutasi Gen KatG S315T M.Tuberculosis Pada Pasien MDR TB Di Sumatera Selatan
    Vol 7 No 2 (2020)

    RA Linda Andriani, Zen Ahmad
    Divisi Pulmonologi Departemen Penyakit Dalam
    Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/ RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang Indonesia

    Pendahuluan
    Indonesia menempati peringkat kelima kasus MDR TB tertinggi di dunia. MDR TB terjadi karena resistensi terhadap obat Rifampisin dan INH yang disebabkan oleh mutasi pada gen M.Tb. Resistensi terhadap obat INH dapat disebabkan oleh beberapa gen tetapi paling sering terjadi karena mutasi gen katG S315TM.Tb. Angka kejadian mutasi gen katG ini bervariasi ditiap daerah. Mutasi gen katG S315TM.Tb dapat menimbulkan resistensi tingkat tinggi terhadap INH.
    Tujuan
    Mengetahui frekuensi mutasi gen katG S315TM.Tb diantara semua pasien MDR TB di Sumatera Selatan.
    Metode
    Sebanyak 118 pasien MDR TB yang menjalani pengobatan di RSMH Palembang dari februari 2019 hingga mei 2020 dilakukan pemeriksaan PCR-RFLP laboratorium mikrobiologi FK UNSRI untuk melihat alel kodon 315 gen katG M.Tb.
    Hasil
    Frekuensi mutasi gen katG S315T M.Tb diantara pasien MDR TB di Sumatera Selatan adalah 48,33%. Pada kelompok mutasi gen katG S315T M.Tb didapatkan indeks massa tubuh yang lebih rendah, jumlah M.Tb yang lebih tinggi dan lesi radiologis yang lebih luas pada saat diagnosis.
    Simpulan
    Resistensi obat isoniazid pada pasien MDR TB mayoritas disebabkan oleh mutasi gen katG S315T M.Tb. Mutasi ini akan menyebabkan resistensi INH tingkat tinggi. Tingginya angka resistensi INH akan mempengaruhi pengobatan MDR TB.
    Kata kunci : MDR TB, mutasi gen katG S315T M.Tb, INH, PCR-RFLP

  • Pola Bakteri Pasien Rawat Inap Pneumonia Komunitas Dewasa RS Hasan Sadikin Bandung Tahun 2018
    Vol 7 No 2 (2020)

    1Program Sarjana Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia
    2Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran / Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia
    3Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia

     

    Abstrak
    Latar Belakang: Pneumonia komunitas merupakan masalah kesehatan serius karena penyakit ini termasuk dari sepuluh penyakit yang paling banyak ditemukan di rumah sakit dengan angka kematian tertinggi ketiga di dunia. Kegagalan terapi yang diakibatkan karena resistansi kuman terhadap regimen yang diberikan dapat menyebabkan bertambahnya beban klinis untuk rumah sakit.
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteriologi dan data resistansi yang berguna sebagai salah satu pertimbangan untuk terapi empiris pneumonia. Metode: Penelitian ini dilakukan menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Data diambil secara retrospektif dari semua hasil uji kepekaan kuman pasien rawat inap di Bangsal Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 1 Januari – 31 Desember 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dicari adalah bakteri penyebab pneumonia dan hasil uji kepekaan yang dihitung berdasarkan resistansi. Hasil: Sebanyak 189 dari 307 data pasien peumonia merupakan infeksi bakteri tunggal dengan 116 diantaranya disebabkan oleh bakteri gram negatif sementara 76 sisanya merupakan infeksi bakteri gram positif. Bakteri gram positif yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus aureus pada 11 pasien. Bakteri gram negatif yang paling banyak ditemukan adalah Klebsiella pneumoniae pada 26 pasien. Resistansi paling tinggi pada bakteri gram negatif ditemukan pada 17 dari 25 pasien infeksi Pseudomonas aeruginosa terhadap tigecycline. Resistansi terendah pada bakteri gram negatif ditemukan pada 1 dari 26 pasien Klebsiella pneumoniae untuk tigecycline. Resistansi paling tinggi untuk bakteri gram positif paling banyak ditemukan berbagai antibiotik yang diujikan kepada Staphylococcus haemolyticus sementara tidak ditemukan resistansi bakteri gram positif terhadap linezolid. Kesimpulan: Bakteri yang paling banyak ditemukan adalah bakteri gram negatif Klebsiella pneumoniae. Angka resistansi bakteri gram negatif paling banyak ditemukan pada Pseudomonas aeruginosa terhadap tigecycline sementara angka resistansi bakteri gram negatif ditemukan paling tinggi pada Staphylococcus haemolyticus terhadap berbagai antibiotik. Kata Kunci: pneumonia komunitas, pola bakteri, resistansi.
    Abstract
    Background: Community-Acquired Pneumonia (CAP) is a serious health problem due to its high hospital incidence and mortality rate. Failure to properly treat the infection, mainly caused by the antimicrobial resistance, may increase clinical burden.
    Objective: This study aims to observe bacterial pattern and resistance in hospitalized pneumonia patients which may be included in future treatment consideration.
    Method: This research was conducted using descriptive quantitative design. Retrospective data of Department of Internal Medicine inpatients with susceptibility test results available from January 1st – December 31st 2018 which fulfilled the inclusion and exclusion criteria was collected through total sampling method. Patients’ data were analyzed and reported by etiological agent and susceptibility test results. Result: Approximately 189 out of 307 available pneoumonia cases were single infections with 116 caused by gram-negative bacteria while 76 were caused by gram-positive bacteria. Staphylococcus dan Klebsiella were the most common gram-positive and negative bacteria found with 11 cases and 26 cases. Highest antibiotic resistance on gram-negative and gram positive bacteria was observed in 17 out of 25 Pseudomonas aeruginosa patients to tigecycline and Staphylococcus haemolyticus on various antibiotics respectively, while the lowest was observed on Amikacin on 4 cases and no resistance found on any patients for linezolid.
    Conclusion: The most encountered single CAP etiological agents in Hasan Sadikin Hospital Bandung came from gram-negative bacteria group, which are Klebsiella pneumoniae and Pseudomonas aeruginosa. Tigecycline was the most resisted antibiotic by gram-negative bacteria, while tetracycline was resisted the most by gram-positive bacteria.
    Keywords: bacterial pattern, community-acquired pneumonia, resistance.

  • Six Minute Walk Test: Maximum Capacity Prediction Instrument For Mongoloid Adults With COPD
    Vol 7 No 2 (2020)

    Nury Nusdwinuringtyas1, Tresia Fransiska Uliana Tambunan2, Faisal Yunus3, Telly Kamelia4
    Affiliation(s) of each author :
    1. Cardiorespiratory Division, Department of Physical Medicine and Rehabilitation, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.
    2. Cardiorespiratory Division, Department of of Physical Medicine and Rehabilitation, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.
    3. Department of Pulmonology and Respiratory Medicine, Persahabatan National Respiratory Referral Hospital, Jakarta, Indonesia.
    4. Respirology and Critical Illness Division, Internal Medicine Department, Universitas Indonesia, Faculty of Medicine. Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia.
    Abstract:
    This study compared prediction of O2 max from total distance of six minute walk test (6MWT) based on Mongoloid’s formula to Caucasian’s formula in Indonesia (Mongoloid) adults with chronic obstructive pulmonary disease (COPD). It involved 44 COPD subjects (38 males) and used total distance from 6MWT to predict O2max with Nury’s formula (Indonesia-Mongoloid) [(0,053 total distancemeter)+ (0,22 ageyears)+ (0,032 heightcentimeter) – (0,164 weightkilogram)– (2,228 gendermale=0, female=1) - 2,287] and Cahalin formula (American-Caucasian) [(0,006 x total distancefeet) + 3,38].The Prediction of O2max with Nury’s formula was 9,35 (1.98-15.89) ml/ kg/min and Cahalin formula is 3.73 (2.21-4.57) ml/kg/min. We found significant different statistically (p<0,05) in the O2max. We concluded that O2max prediction with Cahalin formula showed that the functional capacity was underestimated. This study showed maximum capacity(O2 max) prediction in Mongoloid adults with COPD could not be predicted by Caucasian’s formula.
    Keywords : six minute walk test, COPD, Nury’s formula, Mongoloid
    Abstrak
    Penelitian ini membandingkan nilai prediksi O2 maksimum dari jarak tempuh yang diperoleh pada uji jalan enam menit (6MWT) pada subjek PPOK dewasa Indonesia (Mongoloid) yang dihitung dengan rumus prediksi O2 max berbasis Mongoloid terhadap rumus berbasis Kaukasoid. Penelitian ini melibatkan 44 subjek penelitian (38 laki-laki). Menggunakan jarak tempuh yang diperoleh dari 6MWT, dihitung prediksi O2 max dengan rumus Nury (Indonesia- Mongoloid) = (0,053 jarak totalmeter)+ (0,22 umurtahun)+ (0,032 tinggi badancentimeter) – (0,164 berat badankilogram) – (2,228 Jenis kelaminlaki-laki=0, perempuan =1) - 2,287 dan Rumus Cahalin (Amerika-Kausasoid) = (0,006 x Jarak totalkaki) + 3,38.Prediksi O2 maksimum dengan rumus Nury sebesar 9.35 (1.98-15.89) ml/kg/min, sedangkan dengan rumus cahalin 3.73 (2.21-4.57) ml/kg/min). Terdapat perbedaan bermakna (p<0.05).
    Disimpulkan: menggunakan O2 max prediksi dengan rumus Cahalin menampilkan kapasitas fungsional dibawah nilai sesungguhnya (underestimate), dengan demikian prediksi kapasitas maksimum pada PPOK mongoloid tidak bias diprediksi menggunakan rumus Kaukasoid.
    Kata kunci: uji jalan enam menit, PPOK, rumus Nury, Mongoloid

  • DENGUE FEVER IN THE ERA OF COVID-19 PANDEMIC
    Vol 7 No 1 (2020)

    Gurmeet Singh1, Nova Bornida Fauzi1

    1Department of Internal Medicine, Respirology and Critical Illness, Universitas Indonesia, Rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia

    ABSTRACT 

    COVID-19 is an ongoing pandemic with similar clinical manifestations to other infectious diseases. Until this day there is no exact guideline for the diagnosis and treatment of COVID-19. This case report describes a dengue fever case in a patient with high risk of COVID-19 infection. Rapid detection of this disease helps patients to receive early treatment and also contain the spread of the disease. Due to similar initial symptoms and lab results, a nasopharyngeal swab is recommended on the fifth day of fever, due to high viral load on said days. Clear anamnesis and accurate interpretation of lab and radiologic modalities helps avoidance of unnecessary early medications for COVID-19

     

    Keywords: COVID-19, dengue fever, viral infections

  • WELLENS’ SYNDROME, A PRESENTING SIGN OF LAD OCCLUSION : A CASE REPORT
    Vol 7 No 1 (2020)

    Muhammad Hafiizh Alfarrisi1, Michael2, Emir Yonas3, Raymond Pranata4Department of Cardiology and Vascular Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta, Indonesia; Faculty of Medicine Universitas Indonesia

    Faculty of Medicine, Universitas Kristen Krida Wacana Faculty of Medicine, Universitas YARSI, Jakarta, Indonesia

    Faculty of Medicine, Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Indonesia


    ABSTRAK

    Latar belakang: Di era pentingnya tindakan reperfusi, ada beberapa pola EKG atipikal yang dapat mengancam jiwa sindrom koroner akut risiko tinggi yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah sindrom Wellens dengan karakteristik adanya abnormalitas gelombang T (gelombang T biphasic atau T dalam terbalik) pada hasil elektrokardiogram (EKG) pasien dalam episode tanpa nyeri dada. Hal ini menunjukkan stenosis pada arteri koroner proksimal anterior descending kiri (LAD) derajat tinggi yang dapat mengakibatkan infark akut pada dinding anterior miokard (AMI) jika tidak dilakukan pengobatan maupun reperfusi.

    Tujuan: Untuk menyajikan kasus Wellens sindrom yang mengancam jiwa, sindrom koroner akut risiko tinggi.

    Ilustrasi kasus: Seorang pria berusia 48 tahun, perokok berat, datang ke ruang gawat darurat rumah sakit National Cardiac Center Harapan Kita (NCCHK) dengan nyeri dada berulang dalam waktu 18 jam sebelum datang ke rumah sakit. Pemeriksaan EKG menunjukkan irama sinus dengan T negatif yang dalam di V2-V4, tanpa gelombang Q patologis. Pasien diduga sebagai Wellens Sindrom, sindrom koroner akut dengan risiko tinggi. Pasien kemudian dilakukan intervensi koroner perkutan dini (PCI). Ditemukan 90% sumbatan pada LAD proksimal dan berhasil di lakukan pemasangan satu stent.

    Kesimpulan: Semua pasien dengan/ tanpa riwayat angina dengan EKG yang dicurigai sebagai sindrom Wellens harus menjalani terapi invasive reperfusi sesegera mungkin. Setiap pasien dengan temuan EKG khas Sindrom Wellens tidak boleh menjalani segala bentuk tes jantung lainnya untuk menegakan diagnostik lebih lanjut karena risiko terjadinya kematian jantung mendadak.

     

    Kata kunci: Sindrom koroner akut risiko tinggi, sindrom Wellens, obstruksi arteri descending kiri

    anterior; revaskularisasi, perubahan Elektrokardiografi

  • HRCT FINDINGS IN DELAYED DIAGNOSIS OF TUBERCULOSIS WITH CYSTIC BRONCHIECTASIS AND BRONCHIOLE ECTASIS
    Vol 7 No 1 (2020)

    Desdiani Desdiani1, Asysyukriati R. Prawiro2, Dian Handayani3, Bachtiar Husain4, Chairul Nurdin Azali5, Siti Amanda6

     

    lUniversity of Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten Indonesia

    2University of Pembangunan Nasional Veteran

    3University of North Sumatra 4Firdaus Hospital 5University of North Sumatra 6University of Trisakti

     

     ABSTRACT

     Bronchiectasis is an abnormal, chronic enlargement of the bronchi and associated with a clinical syndrome of cough, sputum production and respiratory infections. Bronchiectasis may appear in association with pulmonary tuberculosis. A 69 years old woman who had recurrent cough since       3 years ago and treated with the diagnosis of allergic bronchitis. Since 5 months ago she had complained cough and shortness of breath. She was admitted to Intensive Care Unit with reduced consciousness and used ventilator for almost a month, had chronic hypercapnea and no response with antibiotic therapy and inhalation. After two weeks, she had improved by tuberculosis treatment and macrolid antibiotics even though pCO2 levels were difficult to decreased.

    Keywords: Bronchiectasis, HRCT, Hypercapnea, Tuberculosis,

  • DELAMANID: PROFIL KEAMANAN TERHADAP JANTUNG PADA PENGOBATAN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT
    Vol 7 No 1 (2020)

    Jefman Efendi Marzuki HY1,2, Nafrialdi3, Purwantyastuti Ascobat31Program Pendidikan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik, FK UI, Jakarta 2Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya, Surabaya 3Departemen Farmakologi dan Terapeutik, FK UI, Jakarta

     ABSTRAK

    Delamanid adalah antituberkulosis baru yang dikembangkan untuk mengobati (Tuberkulosis resisten obat)TB-RO. Dalam proses pengembangan delamanid, selain aspek efikasi, aspek keamanan menjadi perhatian khusus terkait potensi efeknya terhadap jantung berupa pemanjangan interval QT. Namun, data pendukung yang diperoleh masih dalam skala kecil dan belum lengkap. Data keamanan lainnya dibutuhkan dalam rangka pengobatan TB-RO. Sehingga, monitoring aktif dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan dan keamanan pasien.

     

    Kata Kunci: Delamanid, monitoring keamanan, jantung, interval QT, patient safety

  • CENTRAL VENOUS CATHETERIZATION
    Vol 7 No 1 (2020)

    Herikurniawan

    Respirology and Critical Illness Division, Internal Medicine Department

    Faculty of Medicine Indonesia University, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia

     ABSTRACT

    Central venous catheters (CVCs) are essential for the management of some critically ill patients  and those with limited vascular access to provide interventions and monitoring. The procedure        is catheher was inserted into a venous great vessel that traditionally located in the subclavian     vein, internal jugular vein, or femoral vein. Central venous access has several clinical indications, contraindications and complications that must be considered. Most central lines are placed today  via the Seldinger technique, in which the chosen vein is cannulated with a needle, a guide wire       is inserted to maintain a tract through the skin into the vein, and the catheter is then inserted over  the wire into the vein before the wire is removed. This procedure is generally performed with ultrasound guidance to improve the safety of this procedure. Full sterile technique must be used to decrease catheter-related infections.

    Keywords: central venous catheter, criticall ill patients, vascular access, venous great vessel

  • PATIENT SAFETY AND INTERNATIONAL PATIENT SAFETY GOALS (IPSGS) IN THE FIELD OF RESPIROLOGY
    Vol 7 No 1 (2020)

    Herikurniawan

    Respirology and Critical Illness Division, Internal Medicine Department

    Faculty of Medicine Indonesia University, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia

     ABSTRACT

    Patient safety is an effort conducted to prevent and overcome unexpected problems occurring in   the hospital. Patient safety in health care organization is the most important goal that needs to        be achieved and monitored in regular basis. The International Patient Safety Goals (IPSG) are important guidelines at the international level to promote specific improvements in the process of providing safe and high quality patient care. The patient safety standard which is stated in IPSG is consist of 6 elements: (1) patient identification correctly; (2) increasing communication effectively;

    (3) increasing the safety of the high-alert medication; (4) certainty of accurate location, procedure accuracy, and patient-surgery accuracy; (5) reducing the risk of infection related to health service, and (6) reducing the risk of patient harm resulting from falls.

    Keywords patient safety, international patient safety goals, patient safety standard

  • THE PATTERN OF GERMS THAT CAUSES PNEUMONIA IN NON-SMALL CELL LUNG CANCER PATIENTS AND ITS EFFECT ON SURVIVAL
    Vol 7 No 1 (2020)

    I Wayan Hero Wantara1, Ceva Wicaksono Pitoyo1, Andhika Rachman2, Cleopas Martin Rumende1

    1Respirology and Critcal Illness Division, Internal Medicine Departement, Faculty of Medicine Indonesia University, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Indonesia.

    2Medical Hematology-Onkology Division, Internal Medicine Departement, Faculty of Medicine Indonesia University, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Indonesia.

     Introduction: Lung cancer patients often experience pneumonia. This is due to the decrease in body endurance of the patients. Pneumonia complicates treatment, worsens the quality of life, reduces survival, and is often a direct cause of death for lung cancer patients. Dealing with pneumonia in non- small cell lung cancer (NSCLC) patients with continuous antimicrobials treatment without regard to culture sensitivity will cause resistance of germs that cause pneumonia.

    Objectives: This study aims to study the characteristics of NSCLC patients, the pattern of germs that cause pneumonia in NSCLC patients, and to compare the survival of NSCLC patients suffering from pneumonia caused by MDR (multidrug resistance) bacteria with those caused by non-MDR bacteria.

    Methods: This study was a retrospective cohort with research subjects was NSCLC patients with pneumonia caused by MDR and non-MDR bacteria who were treated at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital from January 2013 to December 2017. Analysis was performed with multivariate cox regression analysis.

    Results: The results 32 subjects were infected only from MDR bacteria, 14 subjects infected by both MDR and non MDR bacteria, and 23 subjects were infected by only non-MDR bacteria. The most non-MDR bacteria that cause pneumonia in NSCLC patients was Klebsiella pneumoniae       as much as 37,3%, while the most MDR bacteria that cause pneumonia in NSCLC patients was Acinetobacter baumannii as much as 23,2%. Median survival of NSCLC patients with pneumonia caused by MDR bacteria was 57 days (43,707-70,293) while those by non-MDR bacteria was 92 days (58,772-125,228).

    Conclusions: The survival of NSCLC patients with pneumonia caused by MDR bacteria is shorter than that caused by non-MDR bacteria.

    Key words: MDR, NSCLC, Pneumonia, Survival

  • PREDIKSI LAMA RAWAT INTENSIF PADA PASIEN PASCABEDAH JANTUNG DI UNIT PELAYANAN JANTUNG TERPADU RSUPN DR. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA
    Vol 7 No 1 (2020)

    Arif Mansjoer1,2, Bambang Sutrisna3

    1Divisi Kardiologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

    2Unit Pelayanan Jantung Terpadu RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

    3Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

    Latar Belakang: Lama rawat intensif pasien pascabedah jantung yang memanjang mempengaruhi alur pasien bedah jantung berikutnya. Pengaturan pasien berdasarkan prediksi lama rawat diperlukan agar alur pasien menjadi lancar.

    Tujuan: Membuat prediksi lama rawat intensif 48 jam berdasarkan nilai skor dari model yang

    dimodifikasi dari faktor-faktor EuroSCORE.

    Metode: Penelitian restrospektif dilakukan pada Januari 2012 – Desember 2013 pada 249 pasien yang menjalani bedah jantung di Unit Pelayanan Jantung RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. Analisis survival dan regresi Cox dilakukan untuk membuat prediksi lama rawat intensif 48 jam.

    Hasil: Pada subjek didapatkan median kesintasan lama rawat intensif adalah 43 jam. Model dari 7 variabel EuroSCORE dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam (AUC 0,67).

    Kesimpulan: Model baru dari faktor EuroSCORE dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam.

    Kata Kunci: lama rawat intensif, pascabedah jantung

  • PROFIL KLINIS, GAMBARAN MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS CAIRAN EFUSI PLEURA PADA PASIEN RAWAT INAP DI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2016-DESEMBER 2018
    Vol 7 No 1 (2020)

    Muhammad Fachrurozi Sidiq1, Hasrayati Agustina2, Iceu Dimas Kulsum3

    1Program Studi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

    2Departemen/KSM Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung 

    3Divisi Respirologi dan Respirasi Kritis Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

    ABSTRAK

    Latar Belakang: Efusi pleura adalah akumulasi abnormal cairan dalam rongga pleura yang disebabkan oleh adanya peningkatan laju pembentukan cairan pleura, penurunan drainase cairan oleh sistem limfatik, dan/atau keduanya. Efusi pleura dilaporkan menjadi masalah umum pada pasien yang terdapat di departemen ilmu penyakit dalam.

    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil klinis, gambaran makroskopis dan mikroskopis cairan efusi pleura pada pasien rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2016 hingga Desember 2018.

    Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan rancangan penelitian potong lintang (cross-sectional) dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik. Sampel yang digunakan pada panelitian ini sebanyak 273 sampel rekam medis pasien yang dirawat inap di Departemen  Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2016 – Desember 2018.

    Hasil: Efusi pleura sebagian besar terjadi pada usia <60 tahun (78,39%), lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Keluhan utama tersering adalah sesak napas (81,68%) dan lokasi efusi pleura tersering di hemitoraks dekstra (55,68%). Diagnosis klinis terbanyak adalah keganasan (71,43%) terutama kanker paru pada laki-laki dan kanker ovarium pada perempuan. Warna cairan pleura terbanyak ditemukan adalah kuning kemerahan (34,43%) dan pada keganasan cenderung lebih banyak berwarna merah 71,79%. Sebagian besar (58,97%) efusi pleura merupakan eksudat. Hanya 25,64% pasien dengan diagnosis klinis keganasan yang ditemukan sel tumor ganas pada cairan pleuranya.

    Simpulan: Efusi pleura paling banyak terjadi pada usia tua dan perempuan lebih banyak dibanding laki-laki dengan keluhan utama terbanyak adalah sesak napas. Cairan efusi eksudat berupa gambaran makroskopis warna merah pada cairan pleura lebih cenderung ditemukan pada keganasan. Profil klinis dan gambaran mikroskopis dapat menggambarkan kemungkinan adanya keganasan pada  efusi pleura.

    Kata kunci: Efusi pleura, makroskopis, mikroskopic, profil klinis

     

  • PEDOMAN DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN COVID-19
    Vol 7 No 1 (2020)

    Arto Y. Soeroto1, Prayudi Santoso1, Emmy H Pranggono1, Iceu D Kulsum1,
    Hendarsyah Suryadinata1, Ferdy Ferdian1, Ade Yudisman1, Martina2,Rechta Antartika2, Zulkifli Amin3, C. Martin Rumende3, Ceva W. Pitoyo3, Eric D. Tenda3, Zen Akhmad4, Thomas Handoyo5, M. Ilyas6, Fauzar7, Bambang S. Riyanto8, Samsirun Halim9, Efata B. I. Polii10, Ananda W. Ginting11, Putu Andrika12, Price Maya13, Fajar Raditya14

     

    1Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis Respirasi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unpad/RS Dr. Hasan Sadikin

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) cabang Bandung

    2Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unpad/RS Dr. Hasan Sadikin

    3Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis, Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Jakarta

    4Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI/RS Moh. Husein

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Palembang

    5Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNDIP/RS Kariadi

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Semarang

    6Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNHAS/RS Wahidin Sudirohusodo

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Makassar

    7Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNAND/RSUP Dr. Moh. Djamil

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Padang

    8Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UGM/RSUP Dr. Sardjito

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Yogyakarta

    9FKIK Univ Jambi /RSUD Raden Mattaher

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Jambi

    10Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRAT/RSU Prof Dr Kandou

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Manado

    11Divisi Pulmonologi dan Alergi Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU/RS H. Adam Malik/Pirngadi

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Medan

    12Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/RS Sanglah

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Denpasar

    13Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unsyiah/RSUD Dr. Zainoel Abidin

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Aceh

    14Departemen Penyakit Dalam RS Imanuel Way Halim Bandar Lampung

    Perhimpunan Respirologi Indonesia (PERPARI) Cabang Lampung

     

    PENDAHULUAN
    Virus corona adalah keluarga besar virus yang umum pada manusia dan hewan seperti unta, sapi, kucing, dan kelelawar. Terdapat 7 strain dari virus corona, yaitu 229E (alpha coronavirus), NL63 (alpha coronavirus), OC43 (beta coronavirus), HKU1 (beta coronavirus), MERS-CoV (beta coronavirus yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome, atau MERS), SARS-CoV (beta coronavirus yang menyebabkan Severe Acute Respiratory Syndrome atau SARS) dan SARS-CoV-2 (COVID-19).1,2

    Virus corona dari binatang dapat menginfeksi manusia dan menyebar diantara manusia melalui transmisi manusia ke manusia seperti MERS-CoV, SARS-CoV, dan terkini adalah COVID-19 (Coronavirus disease 2019). Virus penyebab COVID-19 dinamakan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2).2

    Kasus pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya teridentifikasi pertama kali di Wuhan ibukota provinsi Hubei pada awal bulan Desember tahun 2019.3 Pada tanggal 7 Januari 2020, Chinese Center for Disease Control and Prevention (CDC) mengidentifikasi suatu coronavirus baru yang diambil dari swab tenggorokan dari pasien dan kemudian dinamai 2019-nCov atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) oleh World Health Organization (WHO).3-5

    Berdasarkan data dari WHO sampai tanggal 25 Mei 2020, kasus Covid-19 yang positif ada 5.304.772 kasus, dengan total kematian 342.029 pasien. Di Indonesia terdapat 22.271 kasus positif, dengan jumlah kematian 1.372 orang.6

  • ASAP KEBAKARAN HUTAN DAMPAK KESEHATAN DAN PENANGANANNYA
    Vol 6 No 2 (2019)

    EDITORIAL

    Kebakaran hutan masih terjadi di beberapa daerah Indonesia setiap tahunnya, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Apapun penyebabnya, kebakaran hutan akan menghasilkan asap yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan seperti terganggunya aktivitas sehari hari, gangguan transportasi, kerusakan lingkungan, turunnya kunjungan wisatawan, ekonomi dan kesehatan. Asap kebakaran hutan terdiri atas campuran gas, uap air, partikel, bahan kimia organik dan trace mineral. Komposisi asap kebakaran hutan tergantung pada beberapa faktor seperti jenis hutan yang terbakar (lahan gambut atau kayu), suhu api, kadar air diudara ataupun kondisi angin.

  • Evaluasi Akupunktur Tanam Benang Pada Asma Bronkial Persisten Derajat Berat Selama 24 Bulan
    Vol 6 No 2 (2019)

    Andry Hartanto1, Hasan Mihardja1
    1Departemen Akupunktur Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dokter Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia

     

    ABSTRAK
    Asma adalah gangguan inflamasi kronis pada saluran pernapasan di mana banyak sel dan elemen seluler yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel. Asma yang tidak terkontrol menyebabkan kualitas hidup penderita menurun, bahkan sampai kematian karena limitasi udara pernapasan yang terjadi. Disamping itu, penggunaan obat-obatan asma jangka panjang dapat memberikan efek samping yang besar. Akupunktur terbukti dapat membantu penyembuhan asma dari banyak penelitian yang telah dilakukan melalui proses anti inflamasi. Berikut adalah laporan kasus mengenai akupuntur tanam benang pada pasien asma. Pasien dilakukan akupunktur tanam benang secara penetrasi dari titik EX-B1 Dingchuan ke BL13 Feishu pada kedua sisi dengan polydioxanone. Terapi akupunktur tanam benang dilakukan 1 kali saja saat pasien datang pertama kali. Hasil observasi selama 24 bulan menunjukkan bahwa pasien mengalami perbaikan gejala dari waktu ke waktu, frekuensi kekambuhan yang menurun, penggunaan obat-obatan yang menurun hingga tidak mengkonsumsi obat lagi dan peningkatan nilai Asthma Control Test (ACT) yang menunjukkan pasien terkontrol sepenuhnya pada bulan ke-10 hingga akhir evaluasi. Pada pemeriksaan spirometri pada bulan ke-8, hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi paru pasien dalam batas normal.
    Kesimpulan: Akupunktur tanam benang pada pasien dengan asma bronkial persisten derajat berat dapat memperbaiki gejala, mengurangi jumlah penggunaan obat dan meningkatkan nilai Asthma Control Test melalui aksi jaringan neuro-endokrin-imunologi kompleks sebagai anti inflamasi yang merangsang aksis hipotalamus-hipofisa-adrenal, jalur simpatis, jalur parasimpatis kolinergi, aksi antihistamin, sitokin, neuropeptida baik opioid maupun nonopioid dan transient receptor potential cation channel subfamily V member 1 (TRPV1).
    Kata Kunci : asma bronkial, akupunktur tanam benang.

  • Post-Cardiac Injury Syndrome Do We Overlook Its Presence A Case Of Post-Pericardiotomy Syndrome And Current Update Of Its Management Strategy
    Vol 6 No 2 (2019)

    Ian Huang, Prayudi Santoso, Arto Yuwono Soeroto.
    Division of Respirology and Critical Care Medicine, Department of Internal Medicine, Hasan Sadikin Hospital, Padjadjaran University, Bandung, Indonesia

     

    ABSTRACT
    Introduction: Postcardiac injury syndrome (PCIS) is the term that encompasses of postpericardiotomy syndrome, postmyocardial infarction syndrome, and post-traumatic pericarditis. The patient typically presents with fever, pericardial friction rub, and pericardial effusion with or without pleural effusion. The latency period between surgery and clinical manifestation greatly varied which not seldomly causing a delayed diagnosis of the disease.
    Case Report: Herein we report a 30-year-old woman with 1-year history of constrictive pericarditis who was scheduled for a pericardiectomy. She had a history a liver tuberculosis of which she was treated with oral antituberculous drug for 18 months. Her physical examination showed an increased jugular venous pressure with a positive Kussmaul’s Sign, cardiomegaly, and minimal bipedal pitting edema, with otherwise normal examination. Her transesophageal echocardiography (TEE) and MSCT cardiac were positive for constrictive pericarditis. The surgery was uneventful with 200 mL of serous pericardial fluid was removed. Ten days after the surgery, the patient complained fever with increased production of the drainage. She was then assessed as post pericardiotomy syndrome and was given high dose steroid. The drainage was gradually decreased and she was discharged after ten days with anti-inflammatory
    Conclusion: While PCIS is not uncommon, physicians practicing in the field of pulmonary and critical care medicine, and cardiac surgery should be aware not only the presence of this disease, but also to master its prevention and treatment.
    Keywords: Postpericardiotomy syndrome, postpericardiac injury syndrome, pleural effusion, cardiac surgery, prevention

  • Acute Respiratory Distress Syndrome
    Vol 6 No 2 (2019)

    Cleopas Martin Rumende1, I Putu Eka Krisnha Wijaya2
    1Division of Respirology and Critical Care Medicine, Departement of Internal Medicine,
    Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital Indonesia
    2Departement of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia,
    Cipto Mangunkusumo National General Hospital Indonesia

     

    ABSTRAK

    Acute Respiratory Distress Syndrome merupakan akumulasi cairan di alveoli yang menyebabkan terganggunya pertukaran gas di alveoli dan berkurangnya perfusi di jaringan. Kondisi ini dapat disebabkan berbagai etiologi. Tatalaksana ARDS meliputi terapi umum, terapi ventilasi, terapi penyakit yang mendasari, dan terapi target.
    Kata kunci: acute respiratory distress syndrome

1 - 25 of 169 items 1 2 3 4 5 6 7 > >>